Friday, May 14, 2021

Menjalani Hidup

Aku pernah mendengar
Jika menulis jangan saat perasaan sedang emosi.

Aku pernah membaca
Jika mendengar jangan langsung percaya tanpa melihat sendiri.

Aku pernah melihat
Seseorang yang mencintai dengan tulus mampu ikhlas membiarkan pasangan pergi.

Aku pernah merasa
Seseorang yang menyayangi dengan nama Allah mampu membuatku terbangun di sepertiga malam untuk menyebut namanya di dalam hati.

Aku pernah menggenggam
Hal yang aku inginkan akan tetap terlepas menjauh dari jari - jari.

Aku pernah melepas
Hal yang aku hiraukan ternyata datang saat semua menjauh lari.

Aku pernah berharap
Kata yang menjadi doa akan terijabah di kemudian hari.

Aku pernah berdoa
Angan yang ada di hati akan menjadi kenyataan di kemudian nanti.

Wednesday, May 5, 2021

Support System

Hidup merantau adalah perjuangan.

Yang tiap hari pulangpun juga perjuangan.

Hidup merawat anak setiap saat di rumah adalah perjuangan.

Yang harus ninggalin anak untuk kerja juga perjuangan.

Hidup merawat keluarga adalah perjuangan.

Yang merawat orang tuapun juga perjuangan.

Hidup sendiri di kostan adalah perjuangan.

Yang harus tiap hari pulangpun juga perjuangan.

Hidup menjaga persahabatan adalah perjuangan.

Yang menjaga pertemanan juga perjuangan.

Hidup yang kerjanya dirumah adalah perjuangan.

Yang kerjanya di luar rumah juga perjuangan.

Semua punya sisi perjuangan.

Kelahiran kita pun berawal dari perjuangan.

Karna hidup di dunia adalah perjuangan.

Jangan bandingin hidup satu dengan lainnya.

Semua punya perjuangan hebatnya masing - masing.

Friday, March 12, 2021

Ibu dan Supervisor

 Hai, assalamualaikum

Apa kabar ?, semoga selalu sehat agar mampu terus mengaja kesehatan diri di pandemi covid19 ini. Tentu sudah bosan mendengar kata covid19. Sama, aku juga bosan mendengarnya. Satu tahun lebih seperti dipaksa untuk mengurangi kegiatan diluar rumah bersama – sama. Masalah dan kejadianpun datang silih berganti beriringan dengan pandemi. Salah satu hal yang membuat aku yakin menjalani ini semua adalah “Tuhan pasti juga sudah menyiapkan solusi bersamaan saat masalah juga dihadirkan dalam dunia ini”. Tetap semangat!.

Sudah lama aku tidak menulis apapun di sini. Kali ini aku ingin berbagi cerita tentang salah satu  keputusan yang aku ambil di usia yang sudah seperempat abad ini. Aku memilih pulang ke rumah orang tuaku. Membalikkan badanku dari tawaran karir kerja di sebuah perusahaan manufaktur di Batang Jawa Tengah menjadi supervisor bagian sistem informasi persediaan berbasis komputer dan aku juga merelakan perkerjaanku saat ini  untuk pindah ke tempat kerja yang memungkinkan aku mampu pulang setiap hari untuk menemani orang tuaku terutama Ibu.

Jika ditanya tentang nyaman bekerja ditempat dulu jawabnya aku nyaman. Namun hanya butuh ekstra waktu dan berpikir untuk menyelesaiakan kerjaanku hingga sering jam kerja lebih dari delapan jam kerja. Dan itu membuatku tak mampu pulang ke rumah dengan perjalanan satu jam. Hingga aku memilih pulang di kost. Yapss...pulang ke kost dengan jarak yang lebih dekat kemudian beristirahat lebih awal. Hehehe...tidur dengan selimut tebal lembut dan harum adalah hal yang aku suka selain menulis.

Ibuku hampir berusia eman puluh tahun. Jika aku melihat kartu keluargaku  Ibuku lahir pada tahun 1962. Enam puluh tahun kurang satu tahun usianya saat ini. Saat pandemi ini kadang membuatku tambah semakin takut untuk membiarkan ibukku di rumah tanpa ada anaknya yang menemani. Apalagi Ia mempunyai riwayat penyakit darah tinggi. Semoga kuputusanku untuk memilih Ibu adalah yang terbaik saat ini. Bye,,kapan kapan sambung lagi ceritanya ya....keep safe and stay healty, wassalamualaikum.

Untuk anakku kelak, ini tulisan Ibumu Nak. Ibu Yulia Asri Ani lulusan fakultas ekonomi yang suka menulis hal-hal sederhana. Bukan menulis tentang Catatan Atas Laporan Keuangan,hahaha... tapi menulis cerita seperti di blog ibu sederhana ini. Cerita sederhana, puisi sederhana, cerpen cederhana eh typo Nak, cerpen sederhana maksud Ibu. Oh ya Anakku, semoga kalak kamu juga menemani Ibumu ini ya. Jika usia Ibu juga sudah mulai menua cukup temani Ibu ya Nak. Seperti sekarang, ibumu ini sedang menemani yang kau sebut Nenek kelak. Atau Simbah dan “Embah” dalam Bahasa Jawa. 

Wednesday, November 25, 2020

Sehari

 Seberapa jauh jarak antara embun dan pagi

Seberapa jauh jarak antara matahari dan siang

Seberapa jauh jarak antara bayangan dan tubuh ini

Seberapa jauh jarak antara senja dan petang

Seberapa jauh jarak antara gelap dan malam

Seberapa jauh jarak antara bulan dan bintang

Seberapa jauh jarak antara doa dan harapan

Seberapa jauh jarak antara usaha dan kesabaran

Seberapa jauh jarak antara benci dan cinta

Seberapa jauh jarak antara luka dan tawa

Sebarapa jauh jarak antara tenang dan keikhlasan

Seberapa jauh jarak antara napas dan hembusan

Seberapa jauh jarak antara hidup dan mati

Sudahkah bersyukur hari ini ?


Tulisan Ani
Aku ikutsertakan lomba di @badansastra (instagram)

Thursday, November 12, 2020

Tiara dan Lilin Cahaya

 Ia selalu ingin seperti teman lainnya

Sekolah, bermain dan melakukan hal-hal yang ia suka

Wajahnya tak penuh dosa

Seperti buku bersih tanpa coretan pena

Namun beberapa bagian tampak ternoda

Siapa yang melakukannya ?

Ia menangis kala redupnya senja

Lari masuk rumah kala langit mulai menampakkan bintangnya

Ternyata ia takut kesendirian

Orang Tuanya kemana ?

Ibu, Ibu cepat pulang katanya

Air mata membasahi pipi lembutnya

Nenek menghampiri membawakan satu lilin cahaya

Sabar Nduk, Ibumu besok pulang dari kota

Tiara tenang dan tertidur dengan lelapnya

Berharap esok Ibu yang lama tak pulang sudah berada di sampingnya

Tiara kecil yang apa adanya berjuang melewati malam tanpa peluk kasih kedua orang tua


Tulisan : Asriani

Tuesday, November 10, 2020

Rupiah dan Tangan Rakyat

 Tumbuh,

Kadang ia lemah namun tak jarang ia kuat

Ada yang berhati – hati dengannya

Ada pula yang bersahabat dengannya

Ada yang rapat – rapat menyimpannya

Ada pula yang mengedarkannya

Ada yang mencarinya dengan sekuat tenaga

Ada pula yang menolaknya dengan sederhana

Apapun perlakuan mereka kau tak akan binasa

Kau tetap identitas bangsa

Semoga terus semakin jaya

Tangguh berdiri di kancah mancanegara


Karya : Asriani
Puisi ini aku ikut sertakan dalam lomba Pekan Literasi dari Bank Indonesia Purwokerto dan Wadas Kelir Publisher

Butuh Proses

 Saat kamu bilang ingin mengenalku lebih dari teman biasa

Aku hanya menjawab iya

Saat kamu memberi perhatian tak seperti biasa

Aku hanya terdiam saja

Saat kamu membawa sekotak hadiah

Aku hanya bisa terima

Saat kamu membuat aturan

Aku hanya mencoba menyesuaikan

Maaf aku belum cinta

Masih ada hari esok semoga

Meski belum tau akankah tumbuh rasa

Tapi akan selalu ku coba

Tak akan ku memberi jarak antara kita

Tidak ada usaha yang sia-sia

Tikung aku melalui doa juga


Karya : Asriani


Menjalani Hidup

Aku pernah mendengar Jika menulis jangan saat perasaan sedang emosi. Aku pernah membaca Jika mendengar jangan langsung percaya tanpa melihat...